Selasa, 07 Juni 2011

RAKYAT NIAS TELAH SIAP MENANTI REAKSI PARA PEMAIN PEMERINTAHAN DI KANCAH ORANG-ORANG NOMOR SATU SE-PULAU NIAS



Oleh :Bung Mei Restu Laoli

Hiruk -pikuk rakyat pulau Nias berhenti sejenak, hening dan sunyi. Panggung pemerintahannya kini dihuni oleh orang-orang pilihan setelah beberapa pesta rakyat Nias diadakan baru-baru ini. Kini rakyat pulau Nias menantikan angin segar, serta penemuan gaya pemerintahan baru para pemimpin mereka di posisi pemerintahan. Para pemimpin nomor satu kota dan kabupaten di Pulau Nias telah terpilih. Terakhir sekali, pesta rakyat tanggal 05 April 2011 di wilayah Kabupaten Nias. Banyak rakyat yang kecewa dan banyak pula yang gembira, karena pilihannya kalah dan pilihan yang lainnya menang. Yang gembira berteriak  “pilihanku menang….!” Dan yang kecewa menundukkan kepala seakan pasrah terhadap keadaan. Tapi “nasi sudah menjadi bubur” yang terpenting apakah para pemimpin yang terpilih dapat diandalkan ? pertanyaan besar dalam benak ribuan masyarakat Nias.
Dilihat kemasa lalu, nasib rakyat sangatlah menderita, terpuruk dan terbelakang akibat dari kemiskinan yang merupakan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh para pemerintahan sebelumnya. Sebenarnya, kehidupan rakyat dibawah garis kemiskinan tidaklah terlepas dari tangan orang nomor satunya tersebut. Dari ribuan rakyat Nias, mereka yang terpilih merupakan algojo pemberi kemenangan. Disanalah harapan dan impian rakyat di gantungkan hingga lima tahun kedepan. Waktu yang sangatlah lama.
Para Bupati dan wakil Bupati setiap kabupaten di Nias serta Wali Kota dan Wakil  Wali Kota Gunungsitoli yang terlpilih perlu mengambil pengalaman dari sistem pemerintahan penguasa yang lama. Segala bentuk program yang tidalk berpihak kepada rakyat pada masa lalu, besar harapan rakyat kepada pemerintahan yang terpilih untuk memusnahkan sistem program tersebut. Para pemimpin yang terpilih perlu mengatur kembali tatanan pemerintahannya. Selam ini mereka yang memimpin instansi pemerintahan sangatlah tidak ada reaksi yang begitu memuaskan rakyat. Mereka lebih mementingkan diri sendiri. Sedikit kerja, gaji besar bahkan berlimpah ganda, tapi kinerjanya tidak member kelegaan beban rakyat. Rakyat hanya melihat dan menonton kemewahan mereka. Para orang nomor satu di Nias yang memimpin sebelumnya juga berbuat demikian hingga penjaralah yang pantas jadi tempatnya. Begitu besar kepercayaan rakyat kepadanya memimpin Nias selama sepuluh tahun, kini di khianatinyalah kepercayaan tersebut dengan tindakan korupsi dana kemanusiaan yang seharusnya untuk rakyat tertindas. Kejadian penahanan mantan Bupati Nias Binahati B. Baeha oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menunjukkan betapa kejamnya orang yangpernah di elukan sebagia Bapak pembaharuan tersebut.
Oleh sebab itu, rakyat Nias sangatlah berharap agar para algojo pemberi kebebasan dan kemajuan Nias yang telah terpilih supay terhindara dari hal korupsi. Apa yang menjadi bagia dari pendapatannya itulah yang bisa dan pantas dimasukkan dalam kantong dan yang menjadi bagian dari rakyat salurkanlah dan amati serta teliti sampai ketitik yang telah ditentukan. Masa lalu perlu menjadi pedoman , diman akibat tindakan pemerintahan yang mementingkan uang trilliunan rupiah bantuan dari Menko Kesra RI terpaksa dicabut kembali. Itu terjadi karena keegoan  pemerintaah dalam mengelolah uang untuk rakyat yang seharusnya dan tersebut tidak diharuskan melalui tangan pemerintah. Akibatnya ribuan masyarakat Nias yang rumahnya dan lahan-lahan pekerjaan hancur akibat pasca gempa bumi masih belum tersentuh bantuan.
KKN bukan hanya korupsi  uang yang terkandung dari singkatan tersebut. Kolusi dan Nepotisme juga merupakan penjahat penyengsaraan rakyat. Banyak  sekarang para pemimpin dan pegawai instansi pemerintah yang lalai akan tugasa dan lebih mementingkan sanak saudara, family, dan teman dekat untuk menduduki tempat kepemimpinan  kepada rakyat. Praktek Nepotisme selalu menyelimuti rakyat Nias. Beberapa kejadian dari pemilihan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun lalu, para saudara, family, dan teman dekat para pemimpin lolos. Tapi setelah diselidiki ternyata semua itu tidak benar. Mereka yang lolos seleksi dan pantas menjadi Pegawai Negeri tersebut kini menjadi pengangguran. Akibatnya, keahlian para pegawai yang terpilih karena kecurangan tersebut sama sekali nihil menuju sasaran yang di programkan dan mereka masih bertengger diposisi pemerintahan saat ini. Harapan kami rakyat Nias, kami memohon kepada pemimpin kami yang terpilih untuk menyeleksi kembali yang pantas duduk dan yang tidak pantas duduk dikursi kepegawaian dan pemimpin instansi pemerintahan di Nias. Semua harapan ini kami sampaikan agar penantian kami kepada para pemimpin kami yang baru tidaklah sia-sia.
Merdeka...!!!
Penulis Mahasiswa Pendidikan Biologi, anggota komisariat
GmnI FPMIPA IKIP Gunungsitoli


EmoticonEmoticon