Selasa, 07 Juni 2011

BUTUH REFLEKSI

Oleh : Bung Trijudelfin Zega


Bukan laut namanya kalau tidak bergelombang dan bukan hidup namanya jika tidak ada masalah (tantangan), demikian halnya dengan organisasi yang selalu di warnai oleh masalah (konflik) yang silih berganti baik faktor internal maupun eksternal, dalam artian bahwa organisasi itu hidup, tumbuh, dan berkembang bersama dengan masalah. Memang hal ini tidak dapat di pungkiri dan benar adanya, ketika setiap masalah yang muncul mampu ditransformasikan dan menemukan masalah yang strategis maka akan menjadi potensi yang memiliki nilai tambah baik pada pribadi maupun organisasi. Jika di sadari justru dengan masalah kita mendapatkan hal-hal baru, kita di tempa, kearifan, dan kebijaksanaan kita di uji, serta mental dan emosional kita dibentuk. Jadi masalah (tantangan) bukan sesuatu yang fatal, karena kita masih bisa bercermin dari masalah tersebut. Kendati demikian tidak jarang kita menyaksikan adegan organisasi yang hanya karena masalah dapat berpangkal pada perpecahan dan konfrontasi. Esensinya tidak terletak pada mudah rumitnya masalah (tantangan) tetapi lebih pada “mindset” dan “action” kita terhadap masalah. Jika masalahnya rumit tetapi kita anggap bahwa itu adalah sebuah proses dan hal yang lumrah, maka dapat dipastikan masalah tersebut akan mudah dan dapat terselesaikan. Tetapi sekalipun masalahnya mudah jika kita menganggapnya berat maka masalah itu juga akan berat. Hal urgensi dalam hal ini adalah “seperti apa kita memahami masalah” jangan pernah kita di hipnotis oleh masalah tetapi kita harus melihat sisi positif dari masalah tersebut.
Hal yang sama juga sering terjadi ditubuh GmnI khususnya dicabang Gunungsitoli-Nias baik masalah lintas person, tingkat komisariat, dan juga di DPC itu sendiri. Persoalan yang muncul masih berkutat pada konflik organisasi. Sekilas kita menoleh kebelakang ± 2 tahun yang silam pada Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) tanggal 1 November 2008 yang dilaksanakan dipantai Nusa Lima Fo’a, anggota yang mengikuti berjumlah 57 orang yang berasal dari 7 (tujuh) komisariat. Jumlah ini membuktikan bahwa banyak mahasiswa yang terpanggil, sadar, dan memiliki beban moral dalam membangun bangsa ini dan kepulauan Nias pada khususnya serta berpeluang menebarkan secercah cahaya pembaruan ditubuh GmnI itu sendiri. Lantas, apakah memang itu motivasi dari kawan-kawan untuk bergabung dan apakah motivasi itu selalu berkobar dihati bung dan sarina. Seiring bergulirnya waktu apa yang terjadi justru berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan, sikap dan perbuatan para kader semakin menjadi-jadi dan tidak patut untuk diteladani, sekretariat yang notabene sebagai tempat bertemunya kawan-kawan dalam membangun ide-ide juustru dijadikan sebagai tempat penjudian dan tempat kegiatan lainnya yang tidak terpuji dan sangat kontroversi dengan Dasa Prasetya Anggota khususnya point 5, skenario yang sangat ironis dan memalukan bagi seoranng aktivis. Adegan seperti ini dapat merusak nama baik dan citra organisasi, selama ini kita dikenal oleh masyarakat sebagai organisasi yang tetap eksis dalam memperjuangkan hak-hak kaum marhaen, tetapi dengan karakter kader yang seperti ini dapat berujung pada resesi kepercayaan.
Salah satu hal penting yang mesti kita teropong dalam kondisi diatas adalah rekrutmen dan pendidikan kader yang lebih mempertimbangkan kuantitas daripada kualitas. Bukankah Bung Karno pernah berkata “Berikanlah aku sepuluh pemuda maka aku akan menggemparkan dunia”. Jadi, tidak aneh, jika kemudian para kader lebih mengedepankan hal-hal yang berbau seremonial dan pilihan aktiivitas yang menawarkan “gebyar” serta ilusi tentang gerakan politik mahasiswa. Hal-hal yang menyangkut ruang pergulatan pemikiran nyaris tidak tersentuh. Pada akhirnya produk yang dihasilkan adalah kader-kader karbitan yang lemah cecara intelektual dan miskin pemahaman ideologi.
Koordinasi dan komunikasi yang baik juga sangat penting dalam membangun sebuah organisasi, melibatkan kawan-kawan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi juga penting, sehingga semua kader merasa dilibatkan dan terbeban dalam memajukan organiasasi. Azas manfaat dan memberdayakan kawan-kawan harus kita buang jauh-jauh dalam pemikiran dan action kita, serta intervensi alumni harus dibatasi, sebab hal itu akan membuat kawan-kawan lemah dan tidak peduli dengan organisasi yang dapat berujung pada perpecahan. Tetapi perjuangan murni akan menciptakan kader yang militan yang tidak memperhitungkan tetesan keringat demi menegakkan keadilan meskipun hanya berbekal kebersamaan. “Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”, itulah yang kita harapkan bersama.
Pada tingkat implementasi gerakan, yang lebih banyak mengemuka adalah model aksi dijalanan. Sebuah pilihan yang lebih banyak didasari pada euforia politik, mengikuti tren hiruk pikuk aksi mahasiswa dan sekedar mengisi kebutuhan aktivitas organisasi. Dengan demikian, tidak mengherankan jika yang kemudian muncul adalah tipologi gerakan politik semu, miskin gagasan dan terjebak pada karakter aktivisme belaka.
Dari kondisi diatas, kita perlu merefleksikan diri dan siap menerima kritik, karena jika kesiapan itu tidak ada  justru berpotensi menimbulkan konflik baru. Jika kita menginginkan organisasi mahasiswa ini tetap eksis. Perubahan merupakan hal mutlak yang harus kita lakukan sebagai kader GmnI. Perubahhan itu merupakan desain organisasi dan gerakan. Dalam sisi ini pola gerakan yang meengandalkan aksi-aksi dijalanan bukan lagi pilihan strategis. Pilihan yang tepat adalah membangun desain gerakan intelektual dengan menitikberatkan pada reprooduksi ide-ide brilian. Konsolidasi organisasi juga harus dilakukan dan rekonsiliasi terhadap para kader sehingga “gap” yang pernah muncul menjadi referensi dan bahan pembelajaran  pada perjalanan organisasi kedepan. Akhir kata, mari kita songsong hari esok yang lebih baik dengan penuh harapan. MERDEKA……….!!!
Penulis ketua HMP Pendidikan Matematika,
Komisaris Komisariat GmnI FPMIPA IKIP Gunungsitoli


EmoticonEmoticon