Sabtu, 25 Desember 2010

Kemelud di Tengah-tengah Masyarakat

Oleh : Mei Restu Laoli

Berdasarkan hasil pengataman saya terhadap lingkungan desa yang saya tempati, maka ada satu hal yang menonjol yang tidak sesuai dari apa yang yang diharapkan oleh suatu bangsa. Yaitu kurangnya rasa sosial masyarakat. Rasa sosial dalam masyarakat desa saya itu sangat kurang. Dimulai dari gotongroyongnya, organisasi desa dan interaksi antar masyarakat tidak ada. Contohnya saja, bila malam hari semua rumah penduduk ditutup. Orang-orangnya cari aktivitas lain dalam rumah. Mereka tidak saling membicarakan tentang suatu topik cerita dimana mereka dapat bertemu dengan anggota masyarakat lain. Mereka lebih mementingkan diri sendiri, tak mau memikirkan masalah orang lain.

Penyebab maslah di desa saya tersebut berdasrkan penilaian yang saya dapatkan yang disebabkan oleh sikap masyarakat yang selalu iri hati dengan kemajuan anggota masyarakat lain. Di desa saya, tidak boleh ada sebuah keluarga yang perekonomiannya bagus dan bisa dikatakan kaya. Awas! anggota masyarakat lain sudah bersiap-siap untuk merusak lahan perkerjaanmu tersebut. Dengan berbagai kejadian atau perlakuan yang dilakukan untuk menghambat perekonomian sebuah keluarga, yaitu mencuri barang berharga orang (kaya) tersebut., merusaknya seperti meracuni ternak.

 
Ada satu hal yang kurang menunjukkan dalam masyarakat desa saya yaitu saling menjatuhkan. Contohnya di setiap ada suatu masalah antara keluarga A dengan keluarga B, maka orang/anggota keluarga liannya mendukung satu keluarga yang bermasalah untuk menjatuhkan keluarga yang lainnya. Mereka tidak memberikan solusi pemecahan masalah supaya damai. Akibatnya timbul rasa benci dari keluarga yang kalah. Keluarga yang kalah menceritakan kejadian ini kepada familinya dan teman-tenmannya yang akhirnya sifat acuh tak acuh dan tidak saling menyapa terjadi.

Di desa saya pernah ada sebuah organisasi sepak bola, tetapi hanya gara-gara atau masalah anggota diluar organisasi akibatnya masuk dalam organisasi hingga organisasi sepak bola tersebut pecah alias bubar. Di sana kedai kopi dan kedai tuak yang dibuka malam hari akan menjadi tempat pelampiasan kebencian hati kepada masyarakatlain yang pernah menyakiti hati sesame warga.

Bukan hanya dari segi masyarakat, kepala pemerintahan desa saja tidak dapat memperhatikan warga desanya. Sifat acuh tak acuh terhadap orang lain yang tak dikenal oleh pemerintah desa tak diperjuangkan bila ada keperluan yang diurus, tapi bagi sanak family dan keluarga begitu sangat diperjuangkan.

Akhirnya rasa sosial, kebersamaan,persatuan, toleransi dan solidaritas masyarakat desa tiadak ada. Keinginan mementingakan diri sendiri dan pikiran menjatuhkan orang lain, dendam masa lalu, kerap kali itulah yang menyebabkan kehidupan desa saya MATI.

Oleh sebab itu saya mencoba mencari solusi dalam menyelesaikan masalah desa saya tersebut yaitu pemberian masukan kepada masyarakat tentang pentingnya persatuan dan kesatuan desa. Pembentukan organisasi pemersatu, sehingga disana terjadi kebersamaan antar warga serta system pemerintahan desa yang tega dalam bekerja tanpa pandang bulu.

Demikianlah sekilas hasil pengamatan dan penelitian yabg saya lakukan terhadap lingkungan desa yang saya tempati. Semoga pengalaman dari kejadian nyata yang terjadi di desa saya dapat bermanfaat bagi pembaca demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.


(Penulis Mahasiswa Pendidikan Matematika, anggota Komisariat GmnI FPMIPA IGunungsitoli-Nias)


EmoticonEmoticon